Kalimat adalah
satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan
menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang
mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam
wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut,
disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Sedangkan dalam wujud tulisan
berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda
titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!). Sekurang-kurangnya kalimat
dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S)
dan sebuah predikat (P). Kalau tidak memiliki kedua unsur tersebut, pernyataan
itu bukanlah kalimat melainkan hanya sebuah frasa. Itulah yang membedakan frasa
dengan kalimat.
Pengertian Kalimat Efektif
Dalam buku “Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi”, E. Zainal Arifin dan S. Amran Tasai menyebutkan bahwa, kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Ketidakefektifan kalimat dapat membuat pesan yang disampaikan pembicara atau penulis tereduksi, sehingga akan beda maknanya saat ditangkap oleh pendengar atau pembicara.
Unsur-Unsur kalimat Efektif
Sebuah kalimat dinyatakan efektif bila mengandung beberapa ciri khas, yaitukesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.
1. Kesepadanan
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Ciri-ciri kesepadanan ini meliputi:
a. Kalimat tersebut memiliki subjek dan predikat dengan jelas. Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan menghindarkan penggunaan kata di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya.
Contoh:
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (salah).
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (benar).
b. Tidak terdapat subjek ganda.
Contoh:
Soal itu saya kurang jelas (salah).
Soal itu bagi saya kurang jelas (benar).
c. Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh:
Kami datang agak terlambat. Sehingga tidak dapat mengikuti acara pertama (salah).
Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama (benar).
Atau,
Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama (benar).
d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu (salah).
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu (benar).
2. Keparalelan
Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, jika bentuk pertama menggunakan nomina, maka bentuk kedua dan selanjutnya juga menggunakan nomina. Begitu pun dengan verba.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes (salah).
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes (benar).
3. Ketegasan
Ketegasan atau penekanan adalah suatu perlakukan menonjol pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Ada beberapa cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat, yaitu:
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awal kalimat.
Contoh:
Harapan Presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya: harapan Presiden.
b. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (salah).
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (benar).
c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan mujur.
e. Menggunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang harus bertanggung jawab.
4. Kehematan
Kehematan adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Ada beberapa kriteria penghematan, yaitu:
a. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu (tidak hemat).
Karena tidak diundang, ia tidak datang ke tempat itu (hemat).
b. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Contoh:
Ia memakai baju warna merah (tidak hemat).
Ia memakai baju merah (hemat).
c. Penghematan kata dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Contoh:
Sejak dari pagi dia bermenung (tidak hemat).
Sejak pagi dia bermenung (hemat).
d. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
Para tamu-tamu datang dari Jakarta kemarin (tidak hemat).
Para tamu datang dari Jakarta kemarin (hemat).
5. Kecermatan
Kecermatan adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsir ganda, dan tepat dalam pilihan kata.
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah (salah).
Mahasiswa perguruan tinggi terkenal itu menerima hadiah (benar).
6. Kepaduan
Yang dimaksud kepaduan di sini ialah kepaduan pernyataan dalam suatu kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Karena itu, hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh:
Makalah ini membahas tentang desain interior pada rumah adat (tidak padu).
Makalah ini membahas desain interior pada rumah adat (padu).
Itulah penjelasan mengenai Pengertian, Unsur-Unsur, dan Contoh Kalimat Efektif. Artikel ini diringkas dari buku “Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi” karya E. Zainal Arifin dan S. Amran Tasai yang diterbitkan oleh Akarpress, Jakarta, 2010. Semoga bisa membantu Anda yang sedang belajar bahasa Indonesia.
Dalam buku “Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi”, E. Zainal Arifin dan S. Amran Tasai menyebutkan bahwa, kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Ketidakefektifan kalimat dapat membuat pesan yang disampaikan pembicara atau penulis tereduksi, sehingga akan beda maknanya saat ditangkap oleh pendengar atau pembicara.
Unsur-Unsur kalimat Efektif
Sebuah kalimat dinyatakan efektif bila mengandung beberapa ciri khas, yaitukesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.
1. Kesepadanan
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Ciri-ciri kesepadanan ini meliputi:
a. Kalimat tersebut memiliki subjek dan predikat dengan jelas. Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan menghindarkan penggunaan kata di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya.
Contoh:
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (salah).
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (benar).
b. Tidak terdapat subjek ganda.
Contoh:
Soal itu saya kurang jelas (salah).
Soal itu bagi saya kurang jelas (benar).
c. Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh:
Kami datang agak terlambat. Sehingga tidak dapat mengikuti acara pertama (salah).
Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama (benar).
Atau,
Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama (benar).
d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu (salah).
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu (benar).
2. Keparalelan
Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, jika bentuk pertama menggunakan nomina, maka bentuk kedua dan selanjutnya juga menggunakan nomina. Begitu pun dengan verba.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes (salah).
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes (benar).
3. Ketegasan
Ketegasan atau penekanan adalah suatu perlakukan menonjol pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Ada beberapa cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat, yaitu:
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awal kalimat.
Contoh:
Harapan Presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya: harapan Presiden.
b. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (salah).
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (benar).
c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan mujur.
e. Menggunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang harus bertanggung jawab.
4. Kehematan
Kehematan adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Ada beberapa kriteria penghematan, yaitu:
a. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu (tidak hemat).
Karena tidak diundang, ia tidak datang ke tempat itu (hemat).
b. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Contoh:
Ia memakai baju warna merah (tidak hemat).
Ia memakai baju merah (hemat).
c. Penghematan kata dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Contoh:
Sejak dari pagi dia bermenung (tidak hemat).
Sejak pagi dia bermenung (hemat).
d. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
Para tamu-tamu datang dari Jakarta kemarin (tidak hemat).
Para tamu datang dari Jakarta kemarin (hemat).
5. Kecermatan
Kecermatan adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsir ganda, dan tepat dalam pilihan kata.
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah (salah).
Mahasiswa perguruan tinggi terkenal itu menerima hadiah (benar).
6. Kepaduan
Yang dimaksud kepaduan di sini ialah kepaduan pernyataan dalam suatu kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Karena itu, hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh:
Makalah ini membahas tentang desain interior pada rumah adat (tidak padu).
Makalah ini membahas desain interior pada rumah adat (padu).
Itulah penjelasan mengenai Pengertian, Unsur-Unsur, dan Contoh Kalimat Efektif. Artikel ini diringkas dari buku “Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi” karya E. Zainal Arifin dan S. Amran Tasai yang diterbitkan oleh Akarpress, Jakarta, 2010. Semoga bisa membantu Anda yang sedang belajar bahasa Indonesia.
Kesalahan-kesalahan yang sering di temukan dalam
penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari
A: Bro, besok kita nongkrong
yuk.
B: Ogah ah, males gue.
A: Ah, dasar antsos lo..
B: Heh, gue cuma asosial,
bukan psikopat!
A: Hee?
Saya yakin banget, banyak dari kalian yang bingung
dengan dialog di atas. Kalau bingung, itu berarti selama ini kalian biasa
menggunakan istilah "antsos" untuk melabeli orang yang sedang malas
atau menarik diri dari lingkungan sosialnya. Padahal, penggunaan istilah itu
keliru, lho. Ini adalah
contoh salah kaprah dalam berbahasa Indonesia!
Itu baru satu. Masih buanyak lagi contoh salah kaprah penggunaan bahasa
Indonesia yang tanpa disadari sering kita lakukan sehari-hari. Apalagi, di era
informasi dan media sosial saat ini, kreasi kata baru serta serapan bahasa
daerah dan bahasa asing makin banyak mengakomodasi kebutuhan komunikasi
generasi melek internet. Di
sisi lain, dengan banjir informasi, apakah sebagai generasi melek
internet, kalian juga peduli untuk sekadar cek-ricek kesesuaian kata-kata
dengan makna yang digunakan sehari-hari? Atau cuma asal nyeletuk yang penting lawan
bicara paham?
Kali ini, saya akan mengupas lebih lanjut salah kaprah
dalam berbahasa Indonesia tercinta ini. Kenapa bisa ada banyak salah
kaprah berbahasa di masyarakat? Saya juga akan mengajak kamu mengecek
contoh-contoh salah kaprah bahasa yang umum digunakan masyarakat. Jika dari
kalian ada yang tahu contoh salah kaprah berbahasa dan selama ini gatel ingin dikoreksi, yuk
sama-sama berbagi melengkapi artikel ini.Untung-untung bisa
membantu perbendaharaan kata saat mengerjakan soal TPA Verbal di SBMPTN nanti 
Kenapa Ada Salah Kaprah dalam Berbahasa?
Meskipun ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa
Indonesia tidak serta merta jadi bahasa ibu bagi masyarakatnya. Tidak
sedikit orang yang dibesarkan dari keluarga yang dominan menggunakan
bahasa daerah. Namun demikian, mereka paham Bahasa Indonesia meskipun tidak
mesti belajar secara formal terlebih dulu seperti pembelajaran bahasa Inggris
di kursus-kursus. Bisa dibilang, yang mempelajari secara baik itu hanya orang
asing dan guru bahasa saja.
Ternyata, ini punya efek yang jelek ke penggunaan Bahasa
Indonesia itu sendiri. Kita jadi sering abai saat berbahasa Indonesia karena
merasa sudah bisa (dan biasa) menggunakannya. Kita suka malas buka
kamus saat menemukan kata yang artinya belum diketahui atau diketahui tapi
berdasarkan dugaan semata. Ini baru buta makna kata, belum buta tata bahasa dan
tetek bengek lainnya. Akhirnya, kebutaan ini telanjur menjadi kebiasaan padahal
salah kaprah. Tidak hanya di level individu saja, di institusi pemerintah
hingga dunia jurnalistik yang seharusnya sangat memperhatikan penggunaan
bahasa, salah kaprah banyak terjadi.
Salah Paham atau Salah Kaprah?
Ajip Rosidi, seorang bahasawan dan juga sastrawan
tersohor, pernah mengemukakan salah kaprah dalam berbahasa Indonesia. Baginya,
salah kaprah itu berbeda dengan salah paham (salah kaprahsering digunakan untuk maksud salah paham). Salah kaprah berarti
sebuah kesalahan atau kekeliruan yang digunakan secara luas dan masal sehingga
dianggap kaprah (biasa;lumrah) atau dianggap kelaziman.
Contohnya ya kata antsos atau antisosial pada dialog di
atas.
Antisosial
Berarti perilaku yang melawan masyarakat atau lingkungan di sekitar kita, seperti merisak (bully), membunuh, merampok, perilaku licik. Anti-: bentuk terikat (jadi harus digabung dengan kata berikutnya) berarti melawan; menentang; memusuhi. Berdasarkan definisi ini, antisosial juga berarti bentuk gangguan kepribadian dan berkaitan dengan psikopat. Nah, lho…
Berarti perilaku yang melawan masyarakat atau lingkungan di sekitar kita, seperti merisak (bully), membunuh, merampok, perilaku licik. Anti-: bentuk terikat (jadi harus digabung dengan kata berikutnya) berarti melawan; menentang; memusuhi. Berdasarkan definisi ini, antisosial juga berarti bentuk gangguan kepribadian dan berkaitan dengan psikopat. Nah, lho…
Jadi, masih yakin akan pakai
istilah ini untuk kegiatan menarik diri dari kehidupan sosial atau sekadar
berdiam diri? Lebih baik pakai kata asosial.
Asosial
Dipungut dari bahasa Belanda (asociaal). Pada prinsipnya, kata ini lawan dari kata sosial. Perannya, menegasikan kata berikutnya: sosial. Ini mirip dengan kata amoral, yang berarti tidak bermoral; tidak berakhlak. Jadi bisa dibilang asosial berarti tidak bersifat sosial; tidak memedulikan kepentingan masyarakat.
Dipungut dari bahasa Belanda (asociaal). Pada prinsipnya, kata ini lawan dari kata sosial. Perannya, menegasikan kata berikutnya: sosial. Ini mirip dengan kata amoral, yang berarti tidak bermoral; tidak berakhlak. Jadi bisa dibilang asosial berarti tidak bersifat sosial; tidak memedulikan kepentingan masyarakat.
Selain satu contoh ini, saya akan coba kupas lebih
lanjut 10 salah kaprah lain dalam menggunakan Bahasa Indonesia itu. Oke
deh langsung aja.
10 Contoh Salah Kaprah dalam Berbahasa Indonesia di
Kehidupan Sehari-hari
1. Tegar
Semoga keluarga yang ditinggalkan dalam
musibah ini menjadi tegar.
Pada awalnya (cek Kamus Umum Bahasa Indonesia, karya
W.J.S Purwadarminta), kata tegar berarti keras kepala, kepala batu dan ngeyel.
Namun, entah sejak kapan kata ini bertambah makna (jadi dua makna) yaitu tabah;
kuat; sabar. Padahal makna kedua ini bertolak belakang dengan yang pertama.
Entah kenapa pula dalam keseharian makna yang lebih sering beredar makna
yang kedua seperti pada kalimat contoh di atas.
2. Ubah vs rubah
Aku Mau (Once)
Kau boleh acuhkan diriku
dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah perasaanku
Kepadamu
dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah perasaanku
Kepadamu
Apa yang janggal dari lirik salah satu lagu yang pernah
hits di radio ini? Ada apa dengan kata ubah?
Ya, dalam bahasa formal atau informal, seringkali kata
ini dieja dengan kata rubah atau merubah. Ketika kata ini diberi imbuhan me-,
kata yang terbentuk adalah mengubah (me+ubah=meng+ubah) dan bukan merubah. Merubah bisa
saja berarti menjadi (seperti binatang) rubah. Gue menduga ini disebabkan
karena salah paham saat penutur mengubah kata berubah atau perubahan menjadi
bentuk melakukan atau membuat sesuatu jadi bentuk yang sama sekali berbeda dari
sebelumnya. Dalam pengamatan gue, kesalahan ini acap dilakukan oleh para orang
tua kita.
3. Absensi vs presensi
Absensi Kehadiran Peserta Seminar Pembangunan
Infrastruktur Indonesia
Apa yang keliru dari tulisan itu? Ya, betul. Yang keliru
adalah penggunaan absensi yang disertai dengan kata kehadiran.
Absen dipungut dari bahasa Belanda (absent), berarti tidak hadir atau
tidak masuk. Jadi, kalau absensi digabung dengan kehadiran maka
akan jadi arti yang beza, kalau kata orang Malaysia, dan
bertentangan. Lebih baik tulisan absensinya dihilangkan.
Namun begitu, penggunaan kata mengabsen (pemanggilan
daftar hadir agar tahu mana yang hadir dan tidak) atau absensi (daftar
ketidakhadiran) sah-sah saja digunakan.
Sinonim presensi: hadir, masuk
Antonim presensi: mangkir, bolos, perlop, madol, tidak hadir
Antonim presensi: mangkir, bolos, perlop, madol, tidak hadir
4. Acuh
Gelandang Manchester United Nani mulai
menunjukkan sikap acuh terhadap klubnya. Pemain internasional Portugal tersebut
terlihat tidak perduli saat klubnya Kamis dinihari tadi melakoni pertandingan
"hidup dan mati".
Kata "acuh" merupakan kata paling sering
disalahartikan. Bagi sebagian penutur, acuh itu berarti cuek dan tidak
perhatian. Padahal menurut kamus, acuh itu berarti peduli; hirau; ingat; indah;
hisab. Jadi kalau kalimat: dia sudah mengacuhkanku lagi berarti
dia sudah memedulikan dirinya lagi. Lalu bagaimana dengan frasa acuh
tak acuh? Ya, berarti itu berarti peduli-tidak peduli atau terkadang
perhatian dan terkadang tidak.
5. Geming
Di saat ia menembak gue, tubuh gue jadi
grogi, diam tak bergeming.
Selain acuh, kata geming termasuk yang
sering salah tempat. Coba bayangkan, kata yang berarti diam dan tak bergerak
ini dijadikan ke dalam kalimat di atas. Jadi, apa coba artinya? Diam tak
diam? Padahal maksudnya itu kan diam dan tak bergerak. Hal serupa juga
ditemukan dalam tautan (link) berita berikut.
Si wartawan tentu ingin menyampaikan bahwa politikus
Partai Amanat Nasional ini diam (tenang-tenang saja) saat isu jabatan rangkap
ini bergulir ke publik.
6. Nuansa vs suasana (sanskerta: suasana)
Penggunaan kata nuansa dalam lirik lagu
yang pernah dipopulerkan oleh Vidi Aldiano ini termasuk yang benar ya. Nuansa diserap
dari bahasa Belanda (nuance) dan berarti variasi, derajat atau perbedaan
yang sangat halus/kecil sekali. Konteksnya seperti warna, suara, kualitas dan
makna kata. Atau pemisalan lain: terdapat nuansa makna yang berbeda antara kata
murah dan murahan.
Namun demikian, kita masih mendengar kata ini digunakan
maksud yang sama dari kata suasana. Contoh konkret penggunaan salah
kaprah ini adaah pada berita berikut.
Kalau aja si wartawan mau cek kamus, dia bakal menemukan
kalo "Suasana menyeramkan" lebih pas digunakan
daripada "Nuansa menyeramkan".
7. Ke luar vs keluar
Menurut elo mana yang tepat:
Sandra akan pergi ke luar negeri
atau
Sandra akan pergi keluar negeri?
atau
Sandra akan pergi keluar negeri?
Walaupun dua kata ini ditulis berbeda, namun saat
diucapkan, kedengarannya sama aja. Sebetulnya, dua kata ini sangat beda. Ke
luar merupakan bentuk preposisi, sama seperti ke
dalam, ke mana, ke sana, di atas, di mana dll. Kalau kita
contohkan dengan: Sandra akan pergi ke luar negeri. Sebut
saja ia akan ke Singapura. Artinya, Sandra akan pergi ke luar dari negeri
Indonesia menuju Singapura.
Sedangkan keluar dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai kata kerja (verba) dan bermakna ’bergerak
dari sebelah dalam ke sebelah luar’. Coba kita cari apa lawan dari kata keluar?
Iya, jawabannya adalah masuk. Contoh lain kata keluar: Ia dikeluarkan
dari sekolahnya karena didapati mengonsumsi narkoba di kelas atau Shanti
mengeluarkan beberapa uang receh setelah pengamen itu menyanyi.
Kedua contoh ini mencerminkan makna memindahkan sesuatu
dari dalam (dari dalam sekolah dan dari dalam saku). Nah, sesuai dong kalau
lawannya adalah masuk?
8. Pasca vs paska
Akhir-akhir ini para pembawa berita di televisi sering
membubuhkan kata pasca untuk mengganti kata sesudah atau
setelah. Mungkin kata itu terdengar lebih keren dibandingkan dua kata
padanannya. Hal itu sah-sah saja. Tapi masalahnya banyak yang menulis atau
membaca kata ini dengan ejaan paska. Kesalahan lain adalah
memisahkan penulisan pasca dengan kata apa pun yang melekat
setelah kata itu. Misalnya, pasca bayar, pasca SBY atau pasca
tsunami.
Lalu, bagaimana dengan contoh yang gue berikan di atas?
Salahnya ganda, euy. Hehehe
Pasca merupakan kata serapan
dari bahasa Sanskerta dan dalam penulisannya mesti digabung karena termasuk
bentuk terikat. Ada juga penulisan yang menggunakan tanda strip (-)
seperti pasca-SBY, maksudnya setelah pemerintahan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono; pasca-SBMPTN, setelah ujian Seleksi Bersama
Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Selain itu, bedakan penulisan pascatsunami denganpasca-Tsunami
Aceh. Pascatsunami, penulisannya dirangkai karena tsunami
yang dibahas merupakan kejadian alam yang umum sedangkan pasca-Tsunami
Aceh lebih khusus.
9. Garang vs gahar
Maksud hati ingin memberikan nilai garang, seram, keras
atau laki banget, hal yang terucap malah kata gahar. Gue
ga tahu apa musabab kata ini dipadankan dengan empat kata sebelumnya.
Pas gue cek juga di KBBI, arti kata gahar jauh banget dari contoh di atas:
menggosok secara kuat. Tapi kalo menurut Kamus Slang Indonesia (www.kamusslang.com), kata gahar baru
senada dengan empat contoh di atas. Ini berarti, kata gahar belum diakui
sebagai kata resmi dan bersifat informal, hanya digunakan waktu percakapan
santai saja.
Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini, bukan tidak
mungkin mengalami nasib yang sama dengan tegar(memiliki dua makna
padahal awalnya cuma satu), akhirnya bermakna dua dan saling tidak
berkaitan satu sama lainnya. Cuma, sayang kan, kalau memang
artinya berbeda dan itu berawal dari kekeliruan tapi dimaklumkan lalu
“direstui” masuk kamus besar.
10. Nol tau kosong?
Tanya : Mba, saya mau pesan taksi..
Jawab : Oh, baik. Berapa nomor
teleponnya pak?
Tanya : nol delapan satu tiga…
Jawab : kosong delapan satu tiga…
Tanya: mba, nol. Bukan kosong…
Sebagian dari kita sering menemukan “perlakuan” seperti
itu. Ya, ini terjadi karena ada yang menyamakan peran angka nol (0)
yang diambil dari bahasa Belanda (nul), dengan kata kosong.
Dalam penjelasan Tesaurus Bahasa Indonesia, padanan untuk nol itu kosong, namun
hanya diberi label cak (cakapan alias tidak resmi; informal). Sementara makna
kedua adalah hampa; nihil dan keduanya merupakan kata sifat. Padahal kata
nol pada contoh di atas merupakan kata bilangan, bukan kata sifat.
Kalau ada yang masih ingat iklan layanan internet oleh
Telkom dan sering diputar pada televisI swasta pada awal millennium ini:
Telkom-net Instan 080989999, mungkin ada yang berprasangka hal ini yang
memperkuat penggunaan nol menjadi kosong menjadi kaprah.
Sumber :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar