Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil,
dalam wujud lisan maupun tulisan yang mengungkapkan pikiran secara utuh. Dalam
wujud lisan kalimat diungkapkan dengan suara yang naik dan turun, lemah dan
lembut, disela dengan jeda, dan diakhiri dengan intonasi. Sedangkan dalam wujud
tertulis kalimat diawali dengan huruf kapital dan di akhiri dengan tanda titik,
tanda tanya dan tanda seru.
Ciri-ciri
Kalimat
Susilo
(1990:2) mengemukakan lima ciri kalimat bahasa Indonesia kelima ciri tesebut
ialah: bermakna, bersistem urutan frase, dapat berdiri sendiri dalam
hubungannya dengan kalimat yang lain, berjeda dan berhenti dengan berakhirnya
intonasi. Kelima ciri tersebut ialah ciri umumsebuah kalimat. kalimat yang
memenuhi kelima ciri tersebut ialah kalimat bahasa Indonesia, namun hal itu
belum menjamin bahwa kalimat itu ialah kalimat bahasa Indonesia baku.
Contoh
kalimat:
di tempat
itu dijadikan tempat pertemuan bagi pihak yang bertikai di Poso.
Kalimat ini
bukanlah kalimat baku meskipun memiliki kelima ciri kalimat diatas. Hal itu
karena tidak terlihat unsur subjek di dalam kalimat tersebut. Ciri kalimat baku
menurut Susilo (1990:4), yaitu: gramatikal, masuk akal, bebas dari unsur
mubazir, bebas dari kontaminasi, bebas dari interfensi, sesuai dengan ejaan
yang berlaku dan sesuai dengan lafal bahasa Indonesia.
Kalimat
Gramatikal
Kalimat baku
harus gramatikal, yaitu kalimat baku yang harus memenuhi kaidah yang berlaku di
dalam bahasa Indonesia. Kaidah-kaidah tersebut menurut Susilo (1990:4) ialah
harus memenuhi tata kalimat (sintaksis), tata frase (frasiologi), tata morfem
(morfologi) dan tata fonem (fonemik, fonologi). Kalimat bahasa Indonesia secara
gramatikal setidaknya terdiri atas unsur subjek dan unsur predikat. Sebuah
kalimat dapat berdiri sendiri meskipun tanpa objek atau keterangan, tapi unsur
subjek dan predikat tidak dapat ditinggalkan. Karena kedua unsur ini (subjek
dan predikat) memiliki sifat ketergantungan. Unsur subjek tidak akan memiliki
makna tanpa unsur predikat, begitu pula sebaliknya dengan unsur predikat takkan
memiliki makna tanpa adanya unsur subjek.
Contoh kalimat:
George W.
Bush telah kehilangan akal untuk menemukan keberadaan Usamah.
Kalimat
diatas terdiri dari unsur subjek Geoarge W. Bush, unsur predikat kehilangan
akal, dan unsur keterangan untuk menemukan keberadaan Usamah.
Jika unsur keterangan dihilangkan maka kalimat itu masih dapat diterima dalam
tatanan kalimat bahasa Indonesia. Tapi, lain halnya jika unsur subjek atau
unsur predikatnya dihilangkan maka kalimat itu menjadi tak memiliki makna.
Kata-kata
Mubazir Dalam Bahasa Indonesia
Dalam
pembuatan kalimat pemakaian kata-kata harus diperhitungkan penggunaan
fungsinya. Jika, ada unsur kata yang tidak berfungsi dalam sebuah kalimat akan
menimbulkan kalimat menjadi tidak baku. Menurut Susilo (1990:10) kata-kata
mubazir ialah kata-kata yang tidak berarti dan tidak berfungsi. Unsur mubazir
dalam suatu kalimat dapat disebabkan oleh faktor bahasa asing. Misalnya kata adalah pada
kalimat gadis itu adalah mahasiswa unesa. Kata adalah merupakan
pengaruh to be (is) dalam bahasa inggris the girl is
unesa student. To be (is) dalam bahasa Inggris merupakan
sendi kalimat yang tak bisa ditinggalkan (badudu, 1980:132). Struktur bahasa
Indonesia berbeda dengan struktur bahasa Inggris, sehingga pemakaian kata adalah dalam
kalimatgadis itu adalah mahasiswa unesa tidak diperlukan dalam
struktur bahasa Indonesia. Pemakaian dua kata yang sama dalam sebuah kalimat
juga merupakan pembubaziran kata, seperti dalam kata: demi untuk, agar
supaya, amat sangat, mulai dari, sejak dari.
Seharusnya hanya salah satunya yang dipakai tidak perlu memakai keduanya.
Misalnya: demi atau untuk, agar atau supaya, amat atau sangat, mulai atau dari, sejak atau dari.
Kontaminasi
Kontaminasi
berarti rancu atau kacau. Kontaminasi dalam bahasa Indonesia berarti kerancuan
akibat munculnya dua bentuk yang sama dalam sebuah kalimat. Susilo (1990:10)
menyatakan kontaminasi merupakan kerancuan dua kalimat, dua unsur atau dua
struktur, biasanya dapat dikembalikan pada bentuk asalnya.
Kerancuan
dalam bahasa Indonesia oleh badudu (1980:60) dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu;
- Kontaminasi bentuk kata,
kontaminasi bentuk kata merupakan kerancuan yang diakibatkan oleh
pembentukkan kata-kata baru. Kata dipelajarkan merupakan
unsur kontaminasi yang berasal dari dua bentuk dipelajari dan diajarkan.
Kata mengenyampingkan juga merupakan kerancuan bentuk
kata. Kata ini berasal dari kata dasarsamping lalu diikuti
kata depan ke yang menjadi ke samping. Kata ke
samping lalu mengalami penambahan imbuhan me-kan sehingga
merubahnyanya menjadi katamengesampingkan. Kata daras samping juga
ada yang langsung diberi imbuhan me-kan sehingga menjadi menyampingkan,
antara kata mengesampingkan denganmenyampingkan kemudian
mengalami kerancuan kata menjadi mengenyampingkan.
- Kontaminasi bentuk frasa, kalimat
bahasa Indonesia terdiri dari beberapa frasa. Frasa ialah gabungan dua
kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif (kridalaksana, 1982:46).
Kalimat berulang kali ia telah dinasehati terdiri dari
tiga frasa berulang kali, ia, telah
dinasehati. Kata berulang kali berasal dari kata berulang-ulang dan berkali-kali,
kedua kata itu kemudian digabungkan sehingga menjadi kata berulang
kali yang sebenarnya merupakan frasa yang rancu.
- Kontaminas bentuk kalimat,
kontaminasi kalimat terlihat pada contoh kalimat ini Mahasiswa
dilarang tidak boleh memalsu tanda tangan daftar hadir. Jika, ada yang
bertanya tentang pertanyaan tersebut apa yang dilarang jawabnya adalah tidak
boleh memalsu tanda tangan daftar hadir (tidak memalsu tanda
tangan daftar hadir) makna kalimat ini justru bertolak belakang dengan
maksud sebenarnya. Kerancuan kalimat tersebut dapat dikembalikan pada
bentuk aslinya sebagai berikut:
- Mahasiswa dilarang memalsu tanda
tangan daftar hadir.
- Mahasiswa tidak boleh memalsu
tanda tangan daftar hadir.
Interferensi
Dalam
perkembangannya bahasa Indonesia mengalami banyak masukan dari bahasa daerah di
Indonesia maupun bahasa asing. Kosa kata yang berasal dari bahasa daerah
misalnya mantan, nyeri, gambut dsb.
Sedangkan kosa kata asing yang masuk ke bahasa Indonesia berasal dari berbagai
negara misalnya kosa kata Belanda lapor, polisi,kantor dan
bahasa Inggris misalnya ekonomi, remidi, biografi dsb.
Kosa kata yang berasal dari Arab seperti pasal, wakaf, wajib, wahyu dsb.
Kosa kata dari bahasa portugis seperti nona, permen, jendela dsb.
Masuknya
unsur bahasa daerah dan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia dapat
menguntungkan dan merugikan bahasa Indonesia. Menurut Susilo (1990:11) unsur
yang memeperkaya bahasa Indonesia dapat diterima sebagai unsur serapan, sedangkan
unsur yang memiskinkan ditolak karena merugikan bahasa Indonesia. Interfensi
tidak hanya terjadi pada bahasa Indonesia saja, tapi juga terjadi pada bahasa
daerah yang mengalami interferensi dengan bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Seperti yang terlihat pada kata sekolahan konteks kalimat saya
akan berangkat ke sekolahan. kata sekolahan interferensi
dari bahasa jawa. Di dalam bahasa Indonesia seharusnya kalimat berbunyisaya
akan berangkat kesekolah. Interferensi bahasa daerah yang lain pada kata latihan dengan
konteks kalimat anak-anak sedang latihan drama. Dalam bahasa
Indonesia akhiran -an berfungsi untuk membentuk kata benda,
sedangkan kata latihan berfungsi sebagai kata kerja.
Lafal
Bahasa Indonesia Baku
Pemakaian
lafal sebagai ujaran dalam bahasa Indonesia masih sering dipakai secara tidak
konsisten oleh masyarakat. Lafal bahasa Indonesia baku menurut badudu
(1980:115) lafal yang tidak memperdengarkan "warna" bahasa daerah,
dialek dan "warna" lafal bahasa asing. Ketidak bakuan dalam pelafalan
bahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa daerah seperti lafal t yang
dilafalkan oleh penutur bahasa Jawa dan Bali pelafalannya menjadi th seperti
pada kata kota untuk bahasa Bali dan bathi (untung)
untuk bahasa Jawa.
Ketidakbakuan
akibat pengaruh asing juga terdapat pada pelafalan pasca suku
kata ca seharusnya dilafalkan sesuai bentuk fisiknya, namun
pelafalan yang lebih sering terdengar ialah suku kata ka seperti
pelafalan pada kata suka. Kata pasca berasal dari
kata sanksekerta yang berarti sesudah.
Jenis-jenis
Kalimat
Kalimat
memiliki beberapa jenis yang membedakannya, yaitu:
Berdasarkan
Pengucapan
- Kalimat Langsung ialah kalimat yang secara
cermat menirukan suara orang lain. Cirinya adalah 2 tanda petik
("..."), kalimat langsung tidak hanya berupa kalimat pernyataan
tapi juga dapat berupa kalimat perintah dan kalimat tanya.
Contoh:
Kalimat
Pernyataan
" Ayah
senang akhirnya kamu lulus ujian ini. " kata Ayah;
Rima
mengatakan, " Rama berusahalah dipertandingan nanti. "
Kalimat
Perintah
Ibu berkata,
" Budi tutup pintu itu. "
Kalimat
Tanya
" Siapa
yang membuat prakarya itu? ", Tanya Pak guru
- Kalimat Tak Langsung ialah kalimat yang
mengalami perubahan dari kalimat langsung yang menggunakan tanda petik, ke
bentuk berita yang tidak menggunakan tanda petik.
Contoh:
Ayah
berkata kalau dia senang saya lulus ujian.
Rima
mengatakan kepada Rama untuk berusaha dalam pertandingan nanti.
Ibu
meminta saya menutup pintu itu.
Berdasarkan
Jumlah Frasa (Struktur Gramatikal)
- Kalimat Tunggal ialah kalimat yang hanya
memiliki satu pola (klausa), yang terdiri dari subjek dan predikat.
Kalimat tunggal merupakan kalimat yang paling sederhana. Kalimat tunggal
yang sederhana ini dapat ditelusuri berdasarkan pola-pola pembentukannya.
Pola-pola
kalimat dasar yang dimaksud adalah sebagai berikut :
KB + KK (kata benda + kata kerja)
Contoh:
Ibu
memasak.
KB + KS (kata benda + kata sifat)
Contoh:
Anak itu
sangat rajin.
KB + KBil (kata benda + kata bilangan)
Contoh:
Apel itu
ada dua buah.
Kalimat
tunggal terdiri dari 2 jenis, yaitu:
Kalimat
Nominal yaitu
jenis kalimat yang pola predikatnya menggunakan kata benda.
Contoh:
Adik
perempuan saya ada dua orang.
Kalimat
Verbal yaitu
jenis kalimat yang menggunakan kata kerja sebagai predikatnya.
Contoh:
Saya
sedang mandi.
Dua jenis
kalimat tunggal diatas dapat dikembangkan dengan menambahkan kata pada tiap
unsur-unsurnya. Dengan adanya penambahan tiap unsur-unsur itu, unsur utama
masih dapat dengan mudah dikenali. Perluasan kalimat tunggal itu terdiri atas:
- Keterangan tempat, misalnya:
disini, lewat jalan itu, di daerah ini, dll. Contoh: Rumahnya ada
di daerah ini.
- Keterangan waktu, misalnya:
setiap hari, pukul, tahun ini, tahun depan, kemaren, lusa, dll. Contoh: Aktifitasnya
dimulai pukul 08.30 pagi.
- Keterangan alat, misalnya: dengan
baju, dengan sepatu, dengan motor, dll. Contohnya: Dia pergi
dengan sepeda motor.
- Keterangan cara, misalnya: dengan
hati-hati, secepat mungkin, dll. Contoh: Prakarya itu dibuat
dengan hati-hati.
- Keterangan modalitas, misalnya:
harus, mungkin, barangkali, dll. Contoh: Saya harus giat berlatih.
- Keterangan aspek, misalnya: akan,
sedang, sudah, dan telah. Contoh: Dia sudah menyelesaikannya.
- Keterangan tujuan, misalnya:
untuk dirinya, untuk semua orang, dll. Contoh: Orang itu membuat
dirinya terlihat menawan.
- Keterangan sebab, misalnya:
karena rajin, karena panik, dll. Contoh: Dia lulus ujian karena
rajin belajar.
- Keterangan tujuan (ket. yang
sifatnya menggantikan), contoh: penerima medali emas, taufik
Hidayat.
- Perluasan kalimat yang menjadi
frasa, contoh: orang itu menerima predikat guru teladan.
Contoh
perluasan kalimat tunggal:
Ibu sedang
menyapu halaman.
Adik saya
ada 2 orang yang masih sekolah.
Saya
sedang mandi pagi itu.
- Kalimat Majemuk ialah Kalimat majemuk merupakan
kalimat yang terdiri dari 2 atau lebih kalimat tunggal, yang saling
berhubungan baik secara kordinasi maupun subordinasi. Kalimat majemuk
dapat dibedakan atas 3 jenis:
- Kalimat Majemuk Setara adalah kalimat yang terdiri
dari 2 atau lebih kalimat tunggal, dan kedudukan tiap kalimat tunggal itu
ialah setara. Kalimat majemuk setara dapat dikelompokkan kedalam beberapa
bagian, yaitu:
- Kalimat majemuk setara
penggabungan ialah jenis kalimat yang dapat diidentifikasi dengan adanya
kalimat yang dihubungkan dengan kata “dan” atau “serta”. Contoh: "Aku
menulis surat itu dan Dia yang mengirimnya ke kantor pos.",
"Murid-murid membuat prakarya itu serta memajangnya di pameran."
- Kalimat majemuk setara
pertentangan ialah jenis kalimat majemuk yang dihubungkan dengan kata
“tetapi”, “sedangkan”, “melainkan”, “namun”. Contoh: "Anak itu
rajin datang kesekolah, tetapi nilainya selalu merah.", "Ibu
memasak didapur sedangkan saya membersihkan rumah.", "Yang
membuat prakarya itu bukan adiknya melainkan kakaknya yang membuat prakarya
itu.", "Dia tidak membuat makanan itu namun hanya
menyiapkannya untuk para tamu."
- Kalimat majemuk setara pemilihan
ialah jenis kalimat majemuk yang didalam kalimatnya dihubungkan dengan
kata “atau”. Contoh" "Dia bingung memilih antara buah apel
atau buah anggur."
- Kalimat majemuk setara penguatan
ialah jenis kalimat yang mengalami penguatan dengan menambahkan kata
“bahkan”. Contoh: "Dia tidak hanya pandai bermain alat musik, dia
bahkan pandai bernyanyi."
- Kalimat Majemuk Bertingkat adalah penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat. Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk bertingkat terdiri dari 10 macam, yakni:
- Waktu, misal: ketika, sejak,
saat ini. Contoh: "Rumah makan itu sudah berdiri sejak orang
tuaku menetap di kota ini.", "Orang tuaku meninggalkan
kota ini ketika umurku beranjak 3 tahun."
- Sebab, misal: karena, oleh
karena itu, sebab, oleh sebab itu. Contoh: "Dia pergi dari rumah
karena bertengkar dengan istrinya."
- Akibat, misal: hingga, sehingga,
maka. Contoh: "Hari ini hujan sangat deras di Ibukota hingga
mampu menggenangi beberapa ruas jalan."
- Syarat, misal: jika, asalkan,
apabila. Contoh: "Dia harus giat belajar jika ingin nilainya
sempurna.", "Tanaman itu bisa tumbuh dengan subur
asalkan dirawat dengan baik."
- Perlawanan, misal: meskipun, walaupun.
Contoh: "Dia ingin masuk ke perguruan tinggi di Jakarta walaupun
nilai kelulusannya tidak memenuhi syarat.", "Dia selalu
pergi kesekolah dengan berjalan kaki meskipun dia tahu kalau jarak antara
rumah dan sekolahnya sangat jauh."
- Pengandaian, misal: andaikata,
seandainya. Contoh: "Tim kita bisa menjadi juara 1 andaikata kita
berusaha lebih keras lagi."
- Tujuan, misal: agar, supaya,
untuk. Contoh: "Dia bekerja disini agar mendapatkan biaya hidup.",
"Pria itu membuatkan sebuah rumah di daerah "A" untuk
kedua orangtuanya."
- Perbandingan, misal: bagai,
laksana, ibarat, seperti. Contoh: "Wajah anak itu bagai bulan
kesiangan.", "Anaknya yang suka membangkang itu
ibarat Malin Kundang di zaman modern."
- Pembatasan, misal: kecuali,
selain. Contoh: "Dia memiliki bakat menyanyi selain bakat bermain
musik."
- Alat, misal: (dengan + Kata
Benda) dengan mobil, dll. Contoh: "Orang itu pergi ke kantor
dengan mobil."
- Kesertaan, misal: dengan +
orang. Contoh: "Murid-murid sekolah dasar pergi berdarmawisata
dengan para guru."
- Kalimat Majemuk Campuran adalah kalimat majemuk yang
merupakan penggabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat
majemuk bertingkat. Minimal pembentukan kalimatnya terdiri dari 3 kalimat.
Contoh:
- Toni bermain dengan Kevin.
(kalimat tunggal 1)
- Rina membaca buku dikamar.
(kalimat tunggal 2, induk kalimat)
- Ketika aku datang kerumahnya.
(anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)
Hasil
penggabungan ketiga kalimat diatas.
Toni
bermain dengan Kevin dan Rina membaca buku dikamar, ketika aku datang
kerumahnya. (kalimat
majemuk campuran)
Berdasarkan
Isi atau Fungsinya
- Kalimat Perintah adalah kalimat yang
bertujuan untuk memberikan perintah kepada seseorang untuk melakukan
sesuatu. Kalimat perintah dalam bentuk lisan biasanya diakhiri dengan
intonasi yang tinggi, sedangkan pada bentuk tulisan kalimat ini akan
diakhiri dengan tanda seru (!).
Beberapa
bentuk kalimat perintah :
- Kalimat Perintah Permintaan,
contoh: Tolong, tutup pintu itu!
- Kalimat Perintah Larangan,
contoh: Jangan membuang sampah sembarangan!
- Kalimat Perintah Ajakan, contoh: Marilah
kita bersama-sama melestarikan kebudayaan Indonesia!
- Kalimat Berita adalah kalimat yang isinya
mengabarkan atau menginformasikan sesuatu. Dalam penulisannya kalimat ini
diakhiri dengan tanda titik (.) dan dalam pelafalannya kalimat ini akan
diakhiri dengan intonasi yang menurun. Biasanya kalimat berita akan
berakhir dengan pemberian tanggapan dari pihak yang mendengar kalimat
berita ini.
Beberapa
bentuk kalimat berita:
- Kalimat Berita Kepastian, contoh: Kita
akan berangkat ke bandara besok siang.
- Kalimat Berita Pengingkaran,
contoh: Saya tidak akan menghadiri rapat hari ini.
- Kalimat Berita Kesangsiang,
contoh: Guru itu kemungkinan tidak memiliki kinerja yang baik.
- Kalimat Berita Bentuk Lain,
contoh: Saya tidak tahu kenapa orang itu selalu datang ke rumah
kami.
- Kalimat Tanya adalah kalimat yang
bertujuan untuk mendapatkan informasi, biasanya kalimat ini akan diakhiri
dengan pemberian tanda tanya (?). Kata Tanya yang sering digunakan untuk
membuat kalimat Tanya ini ialah bagaimana, dimana, kemana, kapan, berapa,
siapa, mengapa.
Contoh:
Bagaimana
pemerintah menyelesaikan krisis ekonomi saat ini?
Dimana
peristiwa itu terjadi?
Kemana
korban bencana alam itu diungsikan?
Kapan
mereka akan menyerahkan tugas perkuliahan itu?
Berapa
banyak dana yang sudah terkumpul?
Siapa yang
akan terpilih menjadi ketua pelaksana di acara tersebut?
Mengapa
orang-orang itu berhamburan pergi keluar gedung
- Kalimat Seruan adalah kalimat yang dipakai
untuk mengungkapkan perasaan. Dalam pelafalan biasanya ditandai dengan
intonasi yang tinggi, sedangkan dalam penulisannya kalimat seruan akan
diakhiri dengan tanda seru (!) atau tanda titik (.).
Contoh :
Wah, indah
sekali pemandangan itu!
Berdasarkan
Unsur Kalimat
Kalimat yang
dilihat dari unsur kalimatnya dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
- Kalimat Lengkap adalah kalimat yang
setidaknya masih memiliki sebuah subjek dan sebuah predikat. Kalimat majas
juga bisa dikategorikan sebagai kalimat lengkap.
Contoh :
Kami
membersihkan kelas bersama-sama.
- Kalimat Tak Lengkap adalah kalimat yang tidak sempurna. Kalimat dengan bentuk tidak sempurna kadang hanya berupa sebuah subjek saja, atau sebuah predikat, bahkan ada yang hanya berupa objeknya saja atau keterangannya saja. Kalimat tidak lengkap ini sering dipakai untuk kalimat semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan, dan kekaguman.
Contoh:
Selamat
siang!
Tegakkan
disiplin.
Tutup
pintu itu!
Kenapa
diam?
Ayo,
berangkat!
Terima
kasih.
Wah,
sangat cantik!
Jangan
dilempar!
Hai!
Astaga,
indahnya!
Berdasarkan
Pola Subjek - Predikat
Kalimat yang
dilihat dari struktur Subjek & Predikatnya dapat dibagi menjadi 2 jenis,
yaitu:
- Kalimat Inversi
Kalimat
Inversi ini dicirikan dengan adanya kata predikat yang mendahului kata subjek.
Kalimat versi biasanya dipakai untuk penekanan atau ketegasan makna. Kata yang
pertama kali muncul pada kalimat versi merupakan tolak ukur yang akan
mempengaruhi makna kalimat, bahkan kata itu pula yang akan menimbulkan suatu
kesan pada pendengarnya.
Contoh:
Bawa buku
itu kemari!
Keterangan:
Bawa = Predikat
buku itu
kemari! = Subjek
- Kalimat Versi
Kalimat Versi
merupakan kalimat yang sesuai dengan susunan pola kalimat dasar Bahasa
Indonesia (S-P-O-K).
Contoh:
¤ Kami
membeli peralatan sekolah di toko itu.
Keterangan:
Kami = Subjek
membeli = Predikat
peralatan
sekolah = Objek
di toko
itu = Keterangan
¤ Tukang
itu sedang membuat pondasi rumah.
Keterangan:
Tukang itu = Subjek
sedang
membuat =
Predikat
pondasi
rumah = Objek
¤ Barang-barang
ini akan dijual di pasar.
Keterangan:
Barang-barang
ini = Subjek
akan
dijual =
Predikat
di pasar = Keterangan
Berdasarkan
Gaya Penyajiannya
Berdasarkan
gaya penyajiannya kalimat dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
- Kalimat yang melepas
Kalimat ini
akan terwujud jika kalimat majemuk diawali dengan induk kalimat (kalimat utama)
dan diikuti oleh anak kalimat. Gaya penuilisan itu disebut gaya penyajian
melepas.
Contoh:
Saya akan
diizinkan pergi dengan teman-teman jika saya selesai mengerjakan pekerjaan
rumah.
Keterangan:
Saya akan
diizinkan pergi dengan teman-teman (induk
kalimat/kalimat utama)
jika saya
selesai mengerjakan pekerjaan rumah. (anak
kalimat)
- Kalimat yang klimaks
Kalimat ini
akan terbentuk jika anak kalimat berada di awal kalimat majemuk dan diikuti
oleh kalimat utama (induk kalimat).
Contoh :
Karena
pola makan yang tidak teratur, penyakit Maagnya sering kambuh.
Keterangan:
Karena
pola makan yang tidak teratur (anak
kalimat)
penyakit
Maagnya sering kambuh. (induk
kalimat/kalimat utama)
- Kalimat yang berimbang
Kalimat ini
biasanya disusun dalam bentuk kalimat majemuk setara atau kalimat majemuk
campuran. Gaya penyajian seperti ini ialah untuk memperlihatkan kesejajaran
bentuk dan informasinya.
Contoh:
Harga
pangan saat ini makin melonjak, pedagang dan konsumen mempermasalahkan harga
yang semakin naik.
Berdasarkan
Subjeknya
Berdasarkan
subjeknya kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
- Kalimat Aktif
Kalimat aktif
adalah kalimat yang unsur subjeknya melakukan suatu tindakan (pekerjaan). Untuk
predikatnya sendiri dalam kalimat ini berupa kata kerja yang berawalan “me-“
dan “ber-“, selain itu juga dapat berupa kata kerja yang tidak dapat dilekati
oleh awalan “me-“ seperti: mandi, pergi, dll (kecuali makan & minum)
Contoh:
Imbuhan
"me-"
Koki itu
membuat menu baru untuk restorannya.
Imbuhan
"ber-"
Kami
bermain di taman.
Kalimat aktif
dapat dibedakan lagi menjadi 2, yaitu:
- Kalimat Aktif Transitif adalah kalimat yang dapat
diikuti oleh objek penderita. Predikatnya biasanya berawalam “me-“ dan
selalu dapat dirubah kedalam bentuk kalimat pasif yang predikatnya
berawalan “di-“.
Contoh:
Kami
membuat kue. (kalimat
aktif) dapat dirubah menjadi Kue dibuat oleh kami. (kalimat
pasif)
- Kalimat Aktif Intransitif adalah kalimat yang tidak
dapat diikuti oleh objek penderita. Predikat pada kalimat ini biasanya
berawalan “ber-“. Kalimat ini tidak dapat dirubah menjadi kalimat pasif.
Contoh:
Kami
berjaga diluar rumah.
Andi
berteriak dari dalam kamar mandi.
- Kalimat Semi Transitif adalah jenis kalimat yang
tidak dapat dirubah kedalam bentuk pasif, hal itu dikarenakan adanya unsur
pelengkap bukannya objek.
Contoh:
Adiknya
menyerupai Rain.
Keterangan:
Adiknya = Subjek
menyerupai = Predikat
Rain = Pelengkap
Tata
tertib ini berdasarkan keputusan bersama.
Keterangan:
Tata
tertib ini =
Subjek
berdasarkan = Predikat
Keputusan
bersama =
Pelengkap
Dia
menjadi ketua kelas.
Keterangan:
Dia = Subjek
menjadi = Predikat
ketua
kelas =
Pelengkap
- Kalimat Pasif
Kalimat pasif
adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu tindakan. Kalimat bentuk ini
memiliki predikat berupa kata kerja yang berawalan “di-“ dan “ter-“ dan diikuti
kata depan “oleh”. Kalimat pasif dapat dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu:
- Kalimat Pasif Biasa adalah kalimat pasif yang
terdapat di kalimat aktif transitif. Untuk predikatnya sendiri selalu
berawalan dengan imbuhan “di-“, “ter-“ dan “ke-an”.
Contoh:
Sampah
dibuang Rina.
Barang itu
dijual paman.
- Kalimat Pasif Zero adalah kalimat yang unsur
objek pelaku berdekatan dengan unsur objek penderita tanpa ada sisipan
dari kata yang lain. Ciri lainnya ialah unsur predikat berakhiran “-kan”
sehingga membuat awalan “di-“ menghilang dari predikat. Predikat juga bisa
menggunakan kata dasar yang bersifat kata kerja, kecuali kata kerja
"aus" (kata kerja yang tidak bisa menggunakan awalan “me-“ dan
“ber-“)
Contoh:
akan saya
sampaikan pesanmu.
Saya
berikan bukuku.
SUMBER:https://id.wikibooks.org/wiki/Subjek:Bahasa_Indonesia/Materi:kalimat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar